Jakarta, 25 Juli 2025 — Setelah beberapa tahun terdampak pandemi dan pergeseran ke platform digital, industri perbukuan di Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Penerbit-penerbit besar seperti Gramedia, Mizan, dan Bentang Pustaka melaporkan peningkatan penjualan buku cetak hingga 25% dalam enam bulan terakhir.
Menurut data dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), peningkatan ini didorong oleh dua faktor utama: kembali dibukanya toko-toko buku fisik dan meningkatnya minat baca generasi muda terhadap literatur lokal.
“Kami melihat tren positif terutama di genre fiksi remaja, buku pengembangan diri, dan novel sejarah. Banyak pembaca muda yang kembali menghargai sensasi membaca buku fisik,” ujar Rina Mariani, Direktur Pemasaran Mizan Publishing.
Selain itu, program-program literasi yang digagas oleh pemerintah dan komunitas lokal seperti “Gerakan 1000 Buku untuk Nusantara” turut mendorong minat baca di daerah-daerah. Perpustakaan keliling, pameran buku, serta kampanye digital seperti #BacaBukuLokal menjadi bagian dari kebangkitan ini.
Di sisi lain, penulis-penulis muda Indonesia juga mulai mendapatkan sorotan. Buku “Langit Merah di Ujung Senja” karya penulis muda asal Yogyakarta, Dina Putri, berhasil terjual lebih dari 50.000 eksemplar hanya dalam dua bulan sejak dirilis.
Digitalisasi tetap tumbuh
Meski buku fisik mengalami peningkatan, buku digital dan platform audiobook tetap mencatat pertumbuhan stabil. Banyak penerbit kini mengadopsi model hybrid, merilis buku dalam versi cetak dan digital secara bersamaan.
“Kami percaya masa depan buku tidak terletak pada cetak atau digital saja, tetapi pada bagaimana keduanya bisa saling melengkapi pengalaman membaca,” kata Arief Nugroho, CEO startup literasi Litera.id.
Dengan tren ini, masa depan industri buku Indonesia tampak lebih cerah. Membaca bukan hanya aktivitas pendidikan, tetapi mulai kembali menjadi gaya hidup.

